ANOM

Bab. 1

Allah, terasa sesak hati ini.Terasa kosong segalanya. Aku benar-benar seperti kehilangan. 

Allah, aku melepasnya karena-Mu. Aku merelakannya karena-Mu. Aku melukai hatiku sendiri karena lebih memilih-Mu. Bahkan secara tak sengaja aku telah melukai dirinya. Tidak cukupkah pengorbananku ini demi meraih ridha-Mu ?

Allah, aku terluka karena sebuah keputusanku. Demi membenarkan aturan yang datangnya dari-Mu.

Allah, aku lelah. Sangat lelah. Kau tahu semuanya. Kau juga yang mampu memahami lebih dari aku memahami diriku sendiri. Kau tahu mana yang buruk dan baik untukku.

Allah, kami hanya sepasang anak manusia yang sedang jatuh cinta. Sebuah rasa yang patutnya kami syukuri. Kami pernah salah dalam memainkan peran. Tapi Kau tahu kepada siapa hati kami lebih condong.

Allah, sampai kapan kami akan terpisah? Apa sampai ajal menjelang? Atau sampai hari yang telah dijanjikan itu datang?
Allah, Kami  hanya bagian dari muda-mudi akhir zaman. Yang hanya inginkan sebuah ikatan. Demi menjaga kesucian cinta yang kau berikan.

Allah, Jika semua ini kulakukan karena-Mu
Maka izinkanlah cinta kami bertasbih mengagungkan asma-Mu. Izinkan nama kami saling terikat karena-Mu.

Raya
19 November 2019

***

Malam itu, ketika semilir angin tengah menari dengan luwesnya. Dan ribuan bintang bercengkerama dengan asyiknya. Sedang aku tengah larut dalam buaian mimpi nostalgia. Jam menunjukkan pukul sebelas malam.

"Tok - tok - tok ! Assalamu'alaikum !" Hening tak ada jawaban.

"Tok - tok - tok ! Assalamu'alaikum !" Tetap sunyi tak ada tanda kehidupan.

Mungkin takut atau apa. Sehingga pemilik rumah tetap tak menunjukkan batang hidungnya. Kini suara ketukan pintu lebih kencang terdengar. Kata salam berubah menjadi dengusan kesal, dari macan yang lapar. Buas mata itu mengintip ke segala arah jendela. Mencari sasaran empuk untuk dikoyak dengan sejumlah bambu dan besi.

Ratusan masa mulai gusar. Tak berhasil membuat pemilik rumah keluar, mereka memutuskan untuk mengepung rumah itu sampai jam dua dini hari. Sambil menunggu, asyik mereka membicarakan aib pemilik rumah. Belum tentu juga itu benar adanya. Sumpah serapah keluar seenaknya. Tanpa permisi langsung menikam dari belakang. Kehidupan tenang lenyap mengenaskan, hanya karena sebuah komentar dari status facebook.

***

"Syifa, tunggu aku !" Teriakku sambil berjalan tertatih dengan kedua ibu jari dan telunjuk kaki mengapit daun kecil yang kujadikan alas kaki.

"Hahaha, ayo ! Ala ! Kamu lama banget si" Bocah kaya itu menertawakanku tanpa memperhatikan sesuatu yang ada di depannya.

"Brukk... !" Anak laki - laki yang gempal berhasil membuat keseimbangan Syifa oleng.

Aku terkikik melihat ekspresi langka Syifa ini. Dan lagi, siapa yang suruh mengganti namaku jadi Ala ? Namaku Ara, Syifa. Sejurus kemudian, "Hahaha, dasal kamu Aim. Badan keltasku (baca kurus) kan jadi jatoh"

Nah, dia malah tertawa. Dasar aneh. Pikirku. Orang dewasa pun ikut tertawa melihat polah kami. Mereka menganggap tiga sekawan ini sebagai hiburan di sela - sela mereka bekerja memungut sampah. Ya, kami biasa bermain di TPS ( Tempat Pembuangan Sampah ). Bukan tanpa alasan, sebab kontrakan kami memang dekat dengan TPS.

Lahan bermain kami ya di sudut wilayah bernama Pondok Pinang ini. Karut - marut dunia membuat kami tak peduli lagi. Soal bertahan hidup ? Biar itu jadi urusan orang dewasa. Tugas kami sebagai bocah hanya belajar dan bermain.

Beruntung kondisi ini tak membuat kesenjangan antara pihak si Kaya dan si Miskin. Bukti realnya adalah sahabatku ini, Syifa. Dia gadis cadel yang sangat periang. Aku sangat suka bermain dengannya. Jika dipikir, orang kaya mana yang mau mencium aroma sampah dari kami. Bisa dibilang aku sangat beruntung memilikinya. Sebab ia tak pernah sungkan atau pun merasa jijik bermain dengan orang dekil sepertiku.

Pondok Pinang. Sebuah kampung berbatasan tembok ini adalah saksi bisu betapa bahagianya masa kecilku. Di sini aku terlatih agar mampu tetap berdiri meski kejamnya metropolitan membayangi alam bawah sadarku. Aroma darah mungkin sudah biasa aku jumpai sewaktu ikut Bapak dagang nasi goreng di pasar malam.

Pasalnya, orang tawuran hampir tak pernah luput dari pandanganku. Darah yang mengalir segar dari wajah pemuda itu, masih saja lekat di memoriku. Aneh bukan ? Padahal sedikit pun aku tak berniat untuk mengingatnya. Mungkin ini sebabnya memori seorang bocah harus benar - benar dijaga dari berbagai macam kejadian mengerikan. Khawatir akan menjadi trauma ketika ia telah dewasa. Dan sialnya, aku termasuk dari bocah yang mengalami trauma itu.

Pelan tapi pasti. Trauma seakan menguras keberanianku saja.Hingga aku semakin enggan untuk menampakkan diri pada dunia. Itu satu bagian kecil dari ingatan yang tak mampu kulupa. Yah, setidaknya masih ada banyak hal yang bisa kulakukan.

Satu luka tak akan mampu menyembunyikan seribu bahagia bukan ?. Hidup miskin bukanlah akhir dari segalanya. Aroma masa kecilku dipenuhi dengan canda dan tawa.  Dan faktanya aku sangat bahagia.

Malam semakin larut. Tubuh mungilku nampaknya lelah setelah bermain seharian ini. Mata ini kian terkatup bersama mimpi tentang hari esok. Sedikit demi sedikit aku mulai lupa. Kini aku tengah duduk di atas pangkuan rembulan yang tersenyum. Aku melihat tubuhku sendiri yang sedang tidur di ranjang dengan semilir kipas angin tua. Semua penghuni kampung itu tengah pulas. Sepi dan melenakan.

Aduhai, sungguh tenang kelihatannya. Sementara di perbatasan lain, deru mobil dan motor tak hentinya meramaikan suasana malam di kota. Aku bingung. Apa yang mereka kerjakan sampai selarut ini ?. Entahlah. Aku tak peduli. Aku sibuk dan bermain di antara banyaknya bintang. Dan sekejap mereka berubah menjadi kue donat, kue tar, permen lolipop, kue lapis, bolu panggang, dan masih banyak lagi.

"Tok - tok - tok ! ." Suara ketukan pintu itu lemah terdengar memecah keheningan.

"Tok - tok -tok ! ." Ketukan pintu kali ini lebih kencang. Ibu tergopoh membuka pintu dengan mukena yang masih melekat.

"Siapa ya ?" Sambil membuka pintu.

"Loh, koq nggak ada orang ? ." Ibu menutup pintu kembali dengan menenteng sembako di tangan kirinya.

Aku yang terbangun langsung bertanya pada ibu.

"Bu, siapa ? ."

"Nggak tahu Mbak, cuma ada ini di depan pintu." Ibu menunjukkan bungkusan plastik di tangannya.

"Kamu wudhu sana, sholat subuh dulu ! ." Perintah Ibu.

"Iya, Bu." Aku menurut. Padahal aku sedang enak-enaknya makan donat coklat tadi (*dalam mimpi). Huh, menjengkelkan !

Selalu saja ada suara ketukan pintu misterius yang membangunkanku dari mimpi. Saat dibuka, sepi tiada rupa. Hanya ada sembako yang menggigil kedinginan di depan pintu.

Belakangan aku tahu dari Ibu bahwa, pengetuk misterius itu adalah pemilik kontrakan yang kami tinggali ini. Kami menyebutnya Engkong. Beliau sangat baik kepada kami. Kakek berambut putih itu tak pernah absen bertanya kabar tentang kami.

Mungkin karena beliau terkesan dengan sifat Ibu yang jujur atau suka melihat kami yang lucu menggemaskan ini (*terlalu PD ( percaya diri )). Entahlah, yang jelas beliau memang arif dan sederhana.

Jangan membayangkan seperti apa kontrakan kami saat ini (*kata Dilan "itu barat"). Karena kami hanya tinggal di sebuah rumah kumuh dekat TPS yang hanya memiliki satu ruangan saja. Untuk tidur, makan, memasak, dan belajar, semua jadi satu. Mandi dan BAB ? Tenang, kami mandi di tempat pemandian umum warga sekitar. Untung saja gratis. Kalau tidak, tak bisa kubayangkan berapa pompa air yang harus kami bayar setiap harinya. Belum satu bulan. Belum satu tahun. Bisa - bisa pecah telor nanti sebelum waktunya menetas(*apa hubungannya?) .

Untuk BAB kami harus ke sungai dahulu yang jaraknya tidak jauh dari kontrakan. Ah, benar - benar menyenangkan. Betapa tidak, tubuh kecil kami harus bekerja keras memompa air sumur yang keluar saja tidak. Sekalinya keluar, ember yang tak pas dengan mulut pompa. Alhasil, terbuanglah semua airnya. Namanya bocah cilik, ada saja permainannya. Butuh berjam - jam untuk memastikan ember terisi penuh(*lebay).

Namanya kota, tak bisa sepertinya lepas dari sebuah kata bernamankan banjir. Apalagi daerah pinggiran. Seperti yang terjadi di kampung kecil kami.

Malam itu hujan begitu derasnya. Membuat air meluap setinggi lutut orang dewasa. Namun banjir tak mampu membuat kami susah. Justru menjadi hiburan tersendiri bagi warga di tempat kami.

Banjir itu waktunya makan bersama satu kampung. Hahaha..., Unik bukan ? Itulah satu kebiasaan di tempat kami. Tidak susah menjadi orang susah. Istilah ukhuwah belumlah kami kenal saat itu. Akan tetapi secara makna, sangat bisa kami rasakan.

Hidup rukun dengan gotong - royong. Tidak ada istilah kaum tertindas apalagi menindas. Lepas makan bersama. Semua kembali ke rumah masing - masing. Melepas penat setelah seharian bekerja. Memeluk rindu kepada keluarga dengan penuh kehangatan.

Hari berikutnya, seperti biasa. Aku, Adik, dan Ibu ikut Ayah berjualan nasi goreng di dekat pasar malam. Pernah dengar hujan uang ? Bukan ! Bukan hujan uang seperti iklan -iklan Bank di televisi. Tapi benar - benar hujan uang yang melayang berhamburan, seoalah Allah memberikan langsung melalui tangan-Nya tanpa perantara.

Saat itu Aku, Ayah, Ibu, dan Adik, sedang melakukan perjalanan pulang lepas berdagang. Di tengah jalan, tiba - tiba ibu menghentikan langkahnya.

"Mbak, Itu apa ? ." Tanya ibu ketika melihat lembaran merah seperti uang.

"MasyaAllah, ini uang mbak ! ." Teriak ibu sambil memungut selembar seratus ribu rupiah itu.

Aku yang tadinya sudah mengantuk langsung terkaget mendengar ibu teriak. Atau langsung bersemangat mendengar kata uang (?)

"Iya bu, ini uang asli." Timpalku asal bicara sambil mengamati uang itu (*mana tahu bocah kemarin sore antara uang asli atau palsu.)

"Itu mbak, ada lagi ! ." Kali ini warna biru yang dilihatnya.

Uang itu melayang - layang di depan mata kepala kami. Terus seperti itu sampai terkumpul sejumlah uang yang sangat banyak untuk ukuran kelas menengah - bawah seperti kami.

Sesampainya di rumah ibu tak langsung masuk rumah. Ia menghitung uang yang tadi kami kumpulkan lalu membagikannya sama rata.

"Bu, koq uangnya dibagi-bagi gitu ?," tanyaku.

Ibu tersenyum sambil mengelus rambutku, dan berkata, "ini riski Allah mbak, kita juga wajib berbagi sebagai tanda kalau kita bersyukur."

"Owh, jadi ini mau dikasih ke orang-orang ya, Bu ?."

"Ssstttt ! rahasia ya !" Aku mengangguk sambil mengikuti langkah ibu yang diam - diam menaruh uang itu di depan pintu para warga kampung kami.

Malam ini aku belajar darinya. Seberapa pun riski yang kita dapat, jangan lupa untuk membagikannya kepada orang lain. Supaya kita tahu makna bersyukur. Bukan harta yang membuat kita bahagia.

Melainkan senyum mereka atas pemberian kita, itulah bahagia sebenarnya. Ada sensasi luar biasa yang kita rasakan setelah membantu mereka. Perasaan yang tak bisa dirasakan bagi mereka yang gila akan harta. Kata Ibu, "kita boleh miskin harta, asal tak miskin hati." Dan kalimat itu yang menjadi mengantar tidurku malam ini. Terimakasih Ibu, berkat dirimu aku tahu makna dari berbagi.

Berkat ketelatenan wanita ini pula, aku sudah lebih mahir membaca dari anak seusiaku lainnya. Aku memang suka bermain. Tapi semenjak masuk di bangku TK (Taman Kanak-kanak), segalanya mulai terkontrol. Tak ada lagi waktu bermain menjelang maghrib. Baca-tulis, menggambar, dan mengaji. Itu kenapa aku termasuk anak yang lebih unggul dari teman-temanku.

Mungkin ada satu faktor lagi. Televisi. Di daerah tempat tinggalku, hanya ada beberapa rumah saja yang tidak memiliki benda persegi ini. Termasuk aku. Dan beruntungnya tetangga sebelahku punya.

Hanya membutuhkan lubang kecil saja untuk melihatnya. Ya, lubang ajaib yang terdapat pada dinding triplek yang berfungsi sebagai dinding pemisah antara kontrakan satu dengan lainnya. Jadi aku bisa melihat televisi tanpa harus bertamu dahulu. Tentu saja tak sampai melalaikan waktuku. Sebab aku takut kalau ibu melihatku sedang menonton televisi dari lubang itu. Bisa-bisa di semennya nanti tembok itu. Hihi...

"Mbak, lagi ngapain ?"

"Eh, Ibu. Ini, temboknya koq bolong ya ?" jawabku basa-basi-bisu.

"Hahaha, kamu ini ada-ada aja. Besuk Ibu tambal teipleknya" (*mampus aku nggak bisa liat tv lagi)

***

Siapa tak kenal dengan Chiki Bals ? jajanan ini nampaknya tak pernah absen dari genggaman anak-anak, termasuk aku.

"Bu, koq temen-temen kalau habis beli ciki dibuang sih nggak dimakan ?"

Tiba-tiba saja mulut kecilku bertanya saat melihat temanku membuang jajanan itu di depan mata kepalaku. Mereka hanya mengambil hadiah mainan yang berada dalam bungkus ciki.

"Iya, kamu jangan ikut-ikut ya. Itu namanya mubadzir. Kita nggak boleh buang-buang makanan. Soalnya di luar sana banyak anak sesusiamu yang kelaparan nggak bisa makan." Timpal Ibu sambil memasang payet.

"Nggak koq, Bu. Aku nggak mau buang-buang makanan. Orang enak koq cikinya."(*gubrak ! generasi micin yang tak terdeteksi)

Bagiku satu atau dua ciki saja sudah cukup. Aku tak terlalu ambisi dengan hadiah di dalamnya, seperti apa yang teman-temanku lakukan. Hidup miskin bukan berarti buta. Aku harus pintar-pintar menyaring setiap kejadian atau aktifitas yang tersuguh di dalam kehidupanku. Harus pandai bersyukur.

Aku masih beruntung memiliki tempat tinggal dan dapat makan tiga kali sehari. Dapat bersekolah TK saja sudah cukup. Dibanding mereka di luar sana. Jangankan sekolah, makan sehari sekali saja belum tentu didapat.

Mereka tak memiliki rumah sebagai tempat berlindung dari sengatan matahari dan dinginnya malam. Setiap malam, badan mereka menggigil kedinginan. Harus puas dengan pakain lusuh yang hanya melekat dibadan. Dengan  robekan yang hampir ada di setiap sisi bajunya.

Belum lagi kejahatan metropolitan yang setiap waktu dapat mengancam nyawanya. Ah, ingatan itu. Aku melihat wajah anak-anak itu yang sumringah hanya karena mendapat uang seribu rupiah dari pejalan kaki atau mengendara roda yang lewat. Harapan yang ada di kepala pengamen cilik itu hanya satu. "Semoga besuk masih bisa makan."

Selesai makan ciki, aku bermain boneka kesayanganku. Rambut kuning keriting dengan mata yang bisa merem-melek ketika di baringkan dan didirikan. Boneka ini satu-satunya kenangan di daerah Pasar Senen. Tak banyak yang kuingat di sana. Selain beberapa episode saja. Seperti malam itu.

Bedak, sisir, minyak kayu putih, dan sepatu sudah siap kumasukkan ke dalam kantong kresek hitam yang kufungsikan sebagai tas. Tak lupa boneka yang erat kupegang. Pukul 00.15 Ibu dan Ayah tengah terlelap. Sedang aku sibuk dengan aktifitas malamku.

Bersepeda mengelilingi ding-dongan yang ramai setiap waktu. Kecuali malam seperti ini. Setiap akan tutup, Ibu merapikan semua kursi di sudut ruangan agar aku bebas bermain dengan sepedaku.

Maklumlah, ketika siang atau sore, ruangan ini sangat ramai. Sehingga aku hanya bisa bermain di kamar sebelah ruangan ding-dong ini. Tanpa sepeda. Padahal aku sangat suka bermain sepeda.

Alhasil, hanya malam saja waktuku bebas bermain. Apakah kedua orang tuaku membangunkanku ? Tidak ! Aku sudah biasa terbangun sendiri tengah malam. Kalau kebetulan ada orang lewat di depan toko, mungkin berdiri semua bulu kuduknya. Hihi....

Jangan dibayangkan bagaimana suasananya. Auto Horor. Sepi, gelap, dan hanya ada suara tawa anak kecil. Untuk tidak ada backsound suara suzana. Hahaha, tokoh seperti itu belum kukenal dulu.

Kata ibu, seperti ada yang mengajakku bermain. Seorang teman yang tak nampak mata dewasa. Dilihatnya aku bicara sendiri, tertawa, kadang juga menangis lalu tertawa kembali. Entahlah. Aku pun tak pernah tahu dengan siapa aku bermain saat itu.

Yang pasti aku sangat suka bermain ketika tengah malam. Waktu yang paling menyenangkan dan bebas dari keriuhan dan perhatian dari orang-orang yang gemas melihat mata lentik dan pipi bakpauku. Aku bebas berekspresi. Tak peduli besuknya ruangan yang seperti kapal pecah. Namanya juga anak-anak(*Membela diri).

Sampai sekarang pun aku tetap menyukai suasana malam. Aku seperti bisa bernapas dengan lega. Merentangkan tanganku selebar-lebarnya. Selebar dunia khayalku bersama teman beda alam.


Comments