Beritahu, apa salah kami ?
Sebenarnya,
Apa alasan mereka manahan kami ?
Apa karena jarak yang terlampau jauh jadi penghalang kami menunaikannya? Jika begitu untuk apa diciptakan bumi yang begitu luas kalau bukan untuk saling menyambung tali silaturahim ?
Apa karena waktu jadi alasan karena dianggap terlalu terburu-buru ? Bukankah kami sudah menunggu satu tahun lamanya untuk menantikan moment yg sudah terencana baik ini?
Apa karena statusnya yang baru lulus kuliah jadi pemberat mereka meridhai kami? Tapi, bukankah Allah janjikan rizki setelah adanya pernikahan?
Apa karena aku dengan masalalu dan akhlakku yang tercela? Kuakui aku memang pendosa hebat. Aku seburuk-buruk wanita yang dilahirkan. Tapi bukankah Allah Maha penerima Taubat ?
Bukankah selama satu tahun ini kami sengaja tak berhubungan demi keberkahan yang telah Allah janjikan?
Bukankah selama satu tahun ini kami sudah saling berbenah demi memantaskan diri sesuai aturan-Nya ?
Lantas, Apa salah kami? Di mana letak kesalahan kami? Kenapa kalimat "Ridha" yang tadinya terucap, kini mereka dustakan? Jika bukan karena mengharap ridha mereka, mana mungkin kami masih berdiam diri mendengar kata mereka. Kami mengalah dan memilih menjalani rutinitas kami masing-masing hanya karena menghormati betapa pentingnya mereka bagi kami. Lantas apa salah kami ?
Kami hanya ingin menyempurnakan separuh agama kami. Kami hanya ingin menggugurkan penyakit yang telah bersemi di hati kami. Kami hanya ingin menyelamatkan diri kami dari perbuatan keji yg mendatangkan petaka. Kami hanya ingin melaksanakan perintah-Nya bukan semata karena dunia.
Tidakkah kalian mengerti?
Kami takut dengan hati kami
Kami takut dengan diri kami
Kami takut dengan iman kami
Kami takut tak mampu menjaganya kerena perbuatan maksiat yang bahkan tak kami sadari.
...
Aku. Ya, kini aku adalah orang yang sangat kesepian. Aku merasa benar-benar dunia ini tak cukup adil untuk kutinggali. Semua bebas menentukan dengan siapa mereka menjatuhkan pilihannya. Kenapa hanya aku yang tidak? Kenapa hanya aku yang menangis sementara mereka tertawa ? Semua mampu mengutarakan isi hatinya secara sempurna. Kenapa hanya aku yang tidak memiliki kesempatan itu. Aku hanya mendengar dan mendengar tanpa didengar. Aku tak punya hak untuk berpendapat. Kalaupun ada, pasti sudah lebih dulu dibantah sehingga tak memberikan pemahaman apa pun pada mereka. Kenapa hanya aku yang diam sementara orang lain tidak ? Jujur aku sangat lelah dengan hidupku. Andaikata segenggam racun ada di tanganku. Mungkin sudah kuminum seluruhnya.
Kenapa sulit sekali. Allah, adakah kau mendengar sekarang. Adakah Kau melihat sekarang? Apa yang harus kulakukan ? Kau tahu bukan, betapa lelahnya aku menjaga hati ini agar tetap suci seperti mau-Mu. Kau tau bukan, betapa kerasnya aku menahan gejolak rasa yang Kau anugrahkan ini? Allah, kepada siapa lagi aku harus meminta dan berharap jika bukan kepada-Mu. Di mana lagi aku harus jatuh tersungkur jika bukan di hadapan-Mu. Allah, Berapa lama lagi aku harus menunggu kalimat Ridha yg sejatinya datang darimu ?
Allah, Jika hidupku ini baik maka berikanlah aku keberkahan di dalamnya. Jika matiku lebih baik, maka karuniakanlah aku agar menempati tempat yang sama dengan kekasih-Mu Muhammad. Allah, sungguh aku benar-benar merindukannya...
Sebenarnya,
Apa alasan mereka manahan kami ?
Apa karena jarak yang terlampau jauh jadi penghalang kami menunaikannya? Jika begitu untuk apa diciptakan bumi yang begitu luas kalau bukan untuk saling menyambung tali silaturahim ?
Apa karena waktu jadi alasan karena dianggap terlalu terburu-buru ? Bukankah kami sudah menunggu satu tahun lamanya untuk menantikan moment yg sudah terencana baik ini?
Apa karena statusnya yang baru lulus kuliah jadi pemberat mereka meridhai kami? Tapi, bukankah Allah janjikan rizki setelah adanya pernikahan?
Apa karena aku dengan masalalu dan akhlakku yang tercela? Kuakui aku memang pendosa hebat. Aku seburuk-buruk wanita yang dilahirkan. Tapi bukankah Allah Maha penerima Taubat ?
Bukankah selama satu tahun ini kami sengaja tak berhubungan demi keberkahan yang telah Allah janjikan?
Bukankah selama satu tahun ini kami sudah saling berbenah demi memantaskan diri sesuai aturan-Nya ?
Lantas, Apa salah kami? Di mana letak kesalahan kami? Kenapa kalimat "Ridha" yang tadinya terucap, kini mereka dustakan? Jika bukan karena mengharap ridha mereka, mana mungkin kami masih berdiam diri mendengar kata mereka. Kami mengalah dan memilih menjalani rutinitas kami masing-masing hanya karena menghormati betapa pentingnya mereka bagi kami. Lantas apa salah kami ?
Kami hanya ingin menyempurnakan separuh agama kami. Kami hanya ingin menggugurkan penyakit yang telah bersemi di hati kami. Kami hanya ingin menyelamatkan diri kami dari perbuatan keji yg mendatangkan petaka. Kami hanya ingin melaksanakan perintah-Nya bukan semata karena dunia.
Tidakkah kalian mengerti?
Kami takut dengan hati kami
Kami takut dengan diri kami
Kami takut dengan iman kami
Kami takut tak mampu menjaganya kerena perbuatan maksiat yang bahkan tak kami sadari.
...
Aku. Ya, kini aku adalah orang yang sangat kesepian. Aku merasa benar-benar dunia ini tak cukup adil untuk kutinggali. Semua bebas menentukan dengan siapa mereka menjatuhkan pilihannya. Kenapa hanya aku yang tidak? Kenapa hanya aku yang menangis sementara mereka tertawa ? Semua mampu mengutarakan isi hatinya secara sempurna. Kenapa hanya aku yang tidak memiliki kesempatan itu. Aku hanya mendengar dan mendengar tanpa didengar. Aku tak punya hak untuk berpendapat. Kalaupun ada, pasti sudah lebih dulu dibantah sehingga tak memberikan pemahaman apa pun pada mereka. Kenapa hanya aku yang diam sementara orang lain tidak ? Jujur aku sangat lelah dengan hidupku. Andaikata segenggam racun ada di tanganku. Mungkin sudah kuminum seluruhnya.
Kenapa sulit sekali. Allah, adakah kau mendengar sekarang. Adakah Kau melihat sekarang? Apa yang harus kulakukan ? Kau tahu bukan, betapa lelahnya aku menjaga hati ini agar tetap suci seperti mau-Mu. Kau tau bukan, betapa kerasnya aku menahan gejolak rasa yang Kau anugrahkan ini? Allah, kepada siapa lagi aku harus meminta dan berharap jika bukan kepada-Mu. Di mana lagi aku harus jatuh tersungkur jika bukan di hadapan-Mu. Allah, Berapa lama lagi aku harus menunggu kalimat Ridha yg sejatinya datang darimu ?
Allah, Jika hidupku ini baik maka berikanlah aku keberkahan di dalamnya. Jika matiku lebih baik, maka karuniakanlah aku agar menempati tempat yang sama dengan kekasih-Mu Muhammad. Allah, sungguh aku benar-benar merindukannya...
Comments
Post a Comment