Masih Buta

Alay. Satu kata untuk mewakili seluruh catatanku sebelunya. Ya, terserah. Pada kenyataannya itu memang aku. Dulu. Meski sekarang tak jauh berbeda. Hanya saja lebih tak peduli lagi tentang adanya seseorang yang disebut pendamping.

Jujur rindu tentang adanya kesempatan itu memang ada. Mungkin karena terlalu lelah atau lebih tepatnya putus asa menjadi alasan aku bersikap tak peduli meski hati menginginkan. Ditambah sikapnya yang semakin menjauh ketika disinggung masalah ini, entahlah. Sedikit kecewa rasanya. 

Aku yang salah. Dan aku cukup sadar itu. Aku yang mudah goyah pada prinsip yang telah dibuat. Aku yang salah karena tak mampu menahan rindu tentang hadirnya malaikat kecil yang melengkapi segala warna. Aku salah karena telah menyanggupi rentang jarak dan waktu yang jelas menyiksa diriku sendiri. Aku salah karena terlalu berharap pada kesetiaan seseorang yang bisa saja membuatku kecewa. Lantas, mempertahankannya apakah sebuah kesalahanku juga? Kurasa iya.

Dan sekarang, kenapa aku mulai membencinya? Ketika ia mulai bersikap dingin, saat itu juga aku tak menyukainya. Aneh. Harusnya aku bangga karena ia mulai fokus dalam ibadahnya. Tapi, aku membenci caranya memulai. Seolah aku adalah makhluk membosankan layaknya parasit dalam hidupnya. Terserah apa yang ia pikirkan. Yang jelas aku tak menyukai itu.


Comments