Pernahkah kalian berpikir tentang hamparan bumi yang telah dibentangkan padahal bentuk bumi adalah bulat. Pernahkan kalian pernah merenung kenapa kita merasa berjalan di tempat yang diam sedangkan bumi itu berputar dengan cepatnya. Dijadikan-Nya yang bergerak itu seolah diam dan dijadikan-Nya yang berbentuk itu seolah datar. Kuasa Allah. Dijadikannya Al-Qur'an sebagai hidayah bagi seluruh umat tanpa terkecuali. Qs. Ar-Rahman mengajarkanku tentang nikmatnya rasa syukur.
Syukur bukan dinilai dari banyaknya hamdalah. Bukan dilihat dari banyaknya tangis. Tapi seberapa besar efek syukur dalam perbuatan amal sebagai bentuk pengaplikasian yang telah dirasa dan yang terucap. Dan untuk kesekian kali aku merasa kalah dari iblis. Ia termasuk makhluk yang pandai bersyukur. Hanya karena satu saja kesalahan ia menjadi makhluk yang terusir dari syurga. Ia pernah tinggal di syurga. Ia pernah menjadi panglima perang yang paling cerdas dan tangkas. Tapi terusir hanya kerena sifat sombong yang ada padanya. Kita? siapa kita? seorang tokoh? Bukan. Seorang panglima perang? Bukan. Pernah melihat syurga? Belum. Astaghfirullahal'adzim.
Baru tadi malam aku mengeluhkan tentang mutarobbi yang sulitnya luar biasa dibuat terbuka. Ia bermasalah tapi diam. Mulutnya berkata tidak apa-apa. Tapi ekspresi wajahnya jelas terlihat gusar. Yang menyebalkan ketika ia menunjukkan sikap menentang padahal ia butuh dirangkul. Kesal tapi bagaimanapun dia mutarobbiku. Seorang anak yang sengaja Allah titipkan sebagai amanah sekaligus perantara pembelajaran diri. Tapi masalahnya kenapa sikapnya 11/12 sepertiku. Heu..heu... seperti melihat masa laluku dalam bentuk fisik lain. Idealisme yang belum sempurna tersentuh iman.
Aku tahu dia sedang gelisah. Aku tahu dia sedang butuh pertolongan. Aku tahu dia sedang butuh sebuah pelukan. Aku tahu dia sedang butuh didengar. Tapi aku tak tahu bagaimana caranya mengambil hatinya. Dia butuh sendiri tapi tidak benar-benar sendiri yang mengundang sepi. Ia hanya kehilangan arti dari kata damai. Ia kehilangan bentuk kehangatan yang letak sejatinya di hati. Ia kehilngan senyum tulus yang berasal dari keta kecewa. Ia kehilangan harapan dan tujuan hidup. Ia kehilangan semangat dan cahaya hidup. Dan aku belum bisa memberikan itu.
Bagaimana caranya aku memberikan cahaya sedangkan hatiku saja masih keruh. Bagaimana caranya aku menjadi perantara hidayah sedangkan aku belum mendapatkannya kembali. Jujur aku lebih resah. Aku takut jika kehadiranku justru membuatnya semakin kacau. Sudah kukatakan aku seperti melihat diriku dulu padanya. Dan aku sungguh tak tahu cara menghadapi diriku sendiri.
Namun pagi ini aku disadrkan oleh sesuatu yang membawaku pada nasihat 2 tahun lalu. Bahwa kita hanya sebagai perantara yang sama sekali tak dapat memberikan hidayah. Hidayah sepnuhnya Haq Allah. Yang bisa kita lakukan adalah mengoptimalkan pendidikan untuk santri dengan sepenuh hati. Maka di saat itulah akan mendidik kita dengan caranya. Dan satu resep yang jarang sekali kupraktikkan. "Doa". Doa seorang guru kepada murud yang menjadikan hidayah cepat mengalir dengan jalan ikhlas dari seorang guru.
Comments
Post a Comment