Kalah Dan Mengalah Dari Takdir

Pada akhirnya aku kalah. Bisa jadi ini karena kasih sayang-Nya. Atau memang ini karma karena aku mencoba untuk bermain melawan takdirnya. Aku mengaku kalah. Dengan sisa-sisa luka yang belum bisa kubasuh lagi. Setidaknya aku sudah berusaha. Walau dengan cara yang tak pernah pantas untuk disandingkan dengan kata berjuang. Futur menjadi pilihan yang terakhir ketika iman jauh meninggalkan batasnya. Ketika jatuh dan hendak kembali, akan sulit untuk kembali memahami situasi. Cahaya tak pernah sekalipun redup. Hanya saja hati yang terlanjur keruh. Itu alasan kenapa hidayah sulit menembus nurani para pendosa yang sombong. 

Nasi telah menjadi bubur. Kenangan indah pun akan menjadi kenangan terburuk ketika  cita dan harapan meleset dari duga yang dibuat manusia. Aku lupa bahwa semua atas campur tangan-Nya. Aku si rapuh yang ceroboh terhadap takdir yang tersirat maupun tersurat.Hari ini semua terlihat baik-baik saja. Aku tahu, ini seperti halnya ujian-ujian sebelumnya. Dan dengan bodohnya aku tertipu lagi. Sulit sekali memeluk hidayah seperti semula. Harapan yang pupus kembali muncul ketika aku tahu bahwa dia pun masih berjuang. Tentu akan ku dukung. Tapi dengan cara yang berbeda. Dengan harapan hanya tertuju pada satu-satunya tumpuan. Barangkali belum bisa total, bagaimanapun aku bukan robot yang bisa diseting dengan hitungan detik atau menit. Aku akan memulainya dengan kalah yang tak pernah mengenali kata menyerah.


Comments