Ada seorang tokoh berkata bahwa sakit-sakitan adalah ciri orang yang hidupnya tidak berkah. Benarkah? Setiap kata-kata yang berhubungan dengan hak Allah pasti akan saya pikirkan dengan sangat.
Barangkali nikmat sehat adalah satu tanda keberkahan hidup seseorang, tapi bagaimana dengan sakit. Apa lantas bisa disandingkan dengan ketidak berkahan hidup seseorang? Sementara sakit adalah hak Allah yang diberikan kepada siapa saja yang diinginkannya. Bisa jadi oleh sebab kasih sayangnya Ia berikan nikmat berupa sakit? Atau sebuah kesempatan terhapusnya dosa melalui sakit yang dideritanya.
Sementara Rasul sendiri pernah bersabda “Tidaklah menimpa seorang mukmin rasa sakit yang terus menerus, kepayahan, penyakit, dan juga kesedihan, bahkan sampai kesusahan yang menyusahkannya, melainkan akan dihapuskan dengannya dosa-dosanya”.
Jadi seharusnya bukan pada kalimat sakit yang ditekankan. Sebab tidak seorangpun meminta untuk ditimpakan rasa sakit pada dirinya. Adalah hak Allah atas segala yang diujikan kepada hamba-Nya. Melainkan wujud dari kurangnya rasa syukur seseorang atas nikmat sehat yang dimiliki, sehingga Allah turunkan rasa sakit sebagai pengingat. “Rasa Syukur” itulah yang menjadi pembeda antara berkah tidaknya hidup seseorang dengan nikmat sehatnya.
Karena sebelumnya beliau membahas tentang ruginya merokok, maka kalimat yang sudah seharusnya keluar adalah seorang yang kurang bersyukur karena ia merokok yang berdampak pada kesehatannya. Maka hidupnya kurang berkah sebab kelalaiannya.
Sebagai seorang tokoh yang dituakan, sudah selayaknya dapat memilah ulang setiap kalimat yang diucapkan. Sebab setiap kepala memiliki pandangan yang berbeda. Ada yang tajam mengambil makna tersirat, ada pula yang langsung menelan mentah apa yang terucap. Jika mereka salah mengambil kesimpulan, siapa bisa disalahkan?
Comments
Post a Comment