Allah, Aku Rindu


Teruntuk segala yang kini sedang berdzikir. Entah itu langit, hujan, ataupun mentari. Dan untuk segala penjuru langit dan bumi. Yang melihat dan mendengar. Yang merasakan dan turut menangis serta tertawa. Adakah diantaranya dapat menjelaskan? Sebenarnya apa tujuanku hidup sampai detik ini? Apa inginku itu yang sepertinya belum juga usai?

Bukankah kini telah kudapatkan cinta dari seorang anak manusia? bahkan kini aku telah mengandung buah hatinya. Kenapa sepi begitu menusuk meskipun tujuan itu telah kudapatkan? Apakah aku telah salah dalam memahami cinta-Nya? Apakah aku telah terlena dengan kebahagiaan yang dirasa hanya sesaat ini? Kini telah datang ujian di mana aku harus tinggal dan mamaksakan diri untuk menerima segalanya. Lantas di mana kata ikhlas itu ketika hati membutuhkannya? Hidup seperti terasing dengan kebiasaan yang sama sekali berbeda. Aku benci ini. Aku membenci semua yang tak berjalan sebagaimana mestinya. 

Allah, seketika aku rindu dengan dengan cara ummi memanjakanku. Aku rindu dengan perhatian-perhatian yang tak kudapatkan di sini. Aku tak ingin tinggal jauh dengan kedua orang tuaku. Aku rindu mereka. Aku merasakan sepi yang amat sangat dan tak dapat kutangani. Aku rindu keluargaku. 

Allah, maafkan jika aku tak pandai bersyukur, maafkan jika aku lupa dengan segala nikmat yang telah Kau curahkan, maafkan jika selama ini aku begitu egois dan lupa bagaimana caranya merendah dihadapan-Mu. Maafkan jika aku seringkali sombong dan seolah dunia telah kugenggam sepenuhnya sedangkan akhirat kurasakan kian menjauh. 

Allah, aku merasa sepi di tempat ini. Aku butuh Engkau hadir seperti dulu, sehingga tak ada lagi yang kuinginkan selain dekat dengan-Mu.

Comments